Imam Al-Bukhari

//, Video/Imam Al-Bukhari

Imam Al-Bukhari

Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah Dalam Menuntut Ilmu Agama

Di awal usianya yang ke delapan belas, Al-Imam Al-Bukhari diajak oleh ibundanya bersama kakaknya bernama Ahmad bin Ismail berangkat ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji. Perjalanan jauh antara negeri Bukhara dengan Mekkah menunggang unta, keledai dan kuda adalah pengalaman baru baginya. Sehingga beliau terbiasa dengan berbagai kesengsaraan serta kepahitan perjalanan jauh mengarungi padang pasir, gunung-gunung dan lembahnya yang penuh keganasan alam.

Dalam kondisi yang demikian, beliau merasa semakin dekat kepada Allah ta’ala dan benar-benar menikmati perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan. Sesampainya di Makkah, Al-Imam Al-Bukhari mendapati kota Makkah penuh dengan ulama Ahli Hadits yang membuka halaqah-halaqah ilmu. Tentu yang demikian ini semakin menggembirakan beliau. Oleh karena itu, setelah selesai pelaksanaan ibadah haji, beliau tetap tinggal di Makkah sementara kakak kandungnya kembali ke Bukhara bersama ibundanya. Beliau bolak-balik antara Makkah dan Madinah, kemudian akhirnya mulai menulis biografi para tokoh. Sehingga lahirlah untuk pertama kalinya karya beliau dalam bidang ilmu hadits yang berjudul Kitab At-Tarikh.
Ketika kitab karya beliau ini mulai tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam, ramailah pembicaraan orang tentang tokoh ilmu hadits satu ini dan semua orang mengaguminya. Sampai-sampai seorang Imam Ahli Hadits di masa itu yang bernama Al-Imam Ishaq bin Rahuyah rahimahullah membawa Kitab At-Tarikh karya Al-Imam Al-Bukhari ke hadapan gubernur negeri Khurasan yang bernama Abdullah bin Thahir Al-Khuza’i, seraya mengatakan: “Wahai tuan gubernur, maukah aku tunjukkan kepadamu atraksi sihir?” Kemudian ditunjukkan kepadanya kitab ini. Maka gubernur pun membaca kitab tersebut dan beliau sangat kagum dengannya. Sehingga tuan gubernur pun mengatakan: “Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa mengarang kitab ini.” Al-Imam Al-Bukhari pun akhirnya menjadi amat terkenal di berbagai negeri Islam. Ketika Al-Imam Al-Bukhari berkeliling ke berbagai negeri tersebut, beliau mendapati betapa para ulama Ahlul Hadits di setiap negeri tersebut sangat menghormatinya. Beliau berkeliling ke berbagai negeri pusat-pusat ilmu hadits seperti Mesir, Syam, Baghdad (Iraq), Bashrah, Kufah dan lain-lainnya.

Di saat berkeliling ke berbagai negeri itu, beliau suatu hari duduk di majlisnya Al-Imam Ishaq bin Rahuyah rahimahullah. Di sana ada satu saran dari hadirin untuk kiranya ada upaya mengumpulkan hadits-hadits Nabi dalam satu kitab. Dengan usul ini mulailah Al-Imam Al-Bukhari menulis kitab shahihnya dan kitab tersebut baru selesai dalam waktu enam belas tahun sesudah itu. Beliau menuliskan dalam kitab ini hadits-hadits yang diyakini shahih oleh beliau setelah menyaring dan meneliti enam ratus ribu hadits. Beliau pilih dari padanya tujuh ribu dua ratus tujuh puluh lima hadits shahih dan seluruhnya dikumpulkan dalam satu kitab dengan judul Al-Jami’ Ash-Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunani wa Ayyamihi yang kemudian terkenal dengan nama kitab Shahih Al-Bukhari. Kitab ini pun mendapat pujian dan sanjungan dari berbagai pihak di seantero negeri-negeri Islam. Sehingga ketokohan beliau dalam ilmu hadits semakin diakui kalangan luas dunia Islam. Para imam-imam Ahli Hadits sangat memuliakannya, seperti Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Ali bin Al-Madini, Al-Imam Yahya bin Ma’in dan lain-lainnya rahimahumullah.

 Kejeniusan Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah

Al-Imam Al-Bukhari diakui memiliki daya hafal yang sangat kuat dan tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Sang kakak ini menuturkan, pernah Al-Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti majelis cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Al-Imam Al-Bukhari tidak pernah membuat catatan. Beliau sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, beliau meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam majelis tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Al-Imam Al-Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Ketika sedang berada di Bagdad, Al-Imam Al-Bukhari pernah didatangi oleh sepuluh ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, sepuluh ulama tersebut mengajukan seratus buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan beliau. Dan ternyata hasilnya mengagumkan. Al-Imam Al-Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang sebenarnya. Beliau menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Al-Imam Al-Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Beliau sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.

Diantara Guru-guru Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah 

Perhatian lebih kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia sepuluh tahun, hingga dalam usia enam belas tahun beliau sudah hafal dan menguasai berbagai macam kitab. Bukhari berguru kepada Syaikh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara.

Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Al-Imam Ali bin Al-Madini, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Yahya bin Ma’in, Al-Imam Muhammad bin Yusuf Al-Faryabi, Al-Imam Maki bin Ibrahim Al-Bakhi, Al-Imam Muhammad bin Yusuf Al-Baikandi dan lainnya rahimahumullah. Selain itu ada dua ratus delapan puluh sembilan ahli hadits yang haditsnya dikutip oleh beliau dalam kitab Shahih-nya.

Dalam perjalanannya ke berbagai penjuru negeri, Al-Imam Al-Bukhari bertemu dengan para ulama terkemuka yang dapat dipercaya. Beliau mengatakan: “Aku menulis hadits dari 1.080 guru, yang semuanya adalah ahli hadits dan berpendirian bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan”.

Penulis: Ust. Agung Cahyono, S.Pd.I
2017-11-08T08:44:03+00:00 October 10th, 2014|Aqidah, Video|0 Comments

Leave A Comment